Persoalan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) kembali ramai dibincangkan dalam diskusi buku Tionghoa dalam Cengkeraman SBKRI, Senin 22 September 2008. Acara yang digelar di gedung CSIS, Jakarta, ini dihadiri pendiri Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Harry Tjan Silalahi, Wapemred Harian Kompas, Trias Kuncahyono, Wahyu Effendi, penulis buku ini dan Ketua Umum Gerakan Perjuangan Anti Diskriminasi (Gandi), Indradi Kusuma, Pendiri Institut Kewarganegaraan Indonesia (IKI). Acara bedah buku sekaligus peluncuran buku ini juga dipadati wartawan dari media cetak, online, dan televisi. Nampak hadir pula Christanto Wibisono, Direktur Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) dan mantan wartawan Tempo.
|
|
Read more...Baca lebih lengkap
|
|
Kehadiran SBKRI sejak dulu menjadi "jalan buntu" bagi etnis Tionghoa saat mengurus akta kelahiran ataupun KTP. Bahkan setelah penghapusan SKBRI, etnis Tionghoa masih seringkali dimintai menunjukkan surat berbau rasialis itu. Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI), sebenarnya sudah dihapuskan sejak dikelurkannya Kepres No 56/1996 dan Inpres Nomor 4/1999. UU tahun 2006 tentang kewarganegaraan kembali mempertegas penghapusan SBKRI.
|
|
Read more...Baca lebih lengkap
|
|
Berawal melihat rombong yang tak terpakai, Firmansyah tergerak memanfaatkan untuk menjual singkong goreng. Usaha itu bermodal tiga juta rupiah. Singkongnya diberi label Tela Krezz. Lewat eksperimennya ia menyulap singkong dengan bentuk yang tak biasa, rasanya pun lunak bak kentang. Pendek cerita Firmansyah menemukan 14 variasi bumbu.
|
|
Read more...Baca lebih lengkap
|
|
Di Indonesia, sulit mencari kerja memang bukan slogan kosong atau telur angin belaka. Angka pengangguran yang kian bertambah adalah kenyataan pahit yang dihadapi para pencari kerja dan kaum muda diusia produktif. Maka masa-masa mencari kerja bagi fresh graduate bisa menjadi masa yang melelahkan dan penuh ketidakpastian. Inilah cermin nyata dari kondisi perekonomian Indonesia yang sedang sulit.
|
|
Read more...Baca lebih lengkap
|
|
Bagi kaum muda yang terbiasa berorganisasi dan menyukai dunia politik, berwawasan luas, jujur, dan berpihak pada rakyat, pilihan menjadi anggota dewan atau legislatif bisa jadi profesi alternatif. Bahkan oleh para selebritis muda hingga pelawak, menjadi pekerjaan yang kian di lirik. Menjadi anggota legislatif memang menggiurkan dari sisi gaji, tunjangan, dan lain-lain. Bukan rahasia lagi gaji yang biasa dibawa pulang anggota DPR mencapai Rp 48 juta lebih. Namun, bagi yang tidak murni lagi berjuang demi rakyat, soal gaji malah bisa merendahkan martabat mereka. Maka tidak heran bila isu jangan pilih politikus busuk mulai merebak.
|
|
Read more...Baca lebih lengkap
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 Next > End >>
|
| Results 1 - 6 of 34 |