

| |
|
Rubrik ini
terbuka untuk umum. Siapa pun yang ingin bertanya masalah hukum, silakan e-mail ke
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
|
Disclaimer: Tujuan Tanya Jawab Hukum hanya sebatas pengetahuan umum
dan tidak dianggap sebagai nasihat dari pakar hukum. Informasi yang
ditampilkan tidak bersifat rahasia. |
|
|
| |
|
|
|
75 Tanya Jawab Jual Beli Properti

Rp24 000
|
Tata Cara Mengurus HAKI

Rp24 000
|
Panduan Lengkap Membuat Surat-Surat Kontrak

Rp46 000
|
Buku Pintar Perizinan dan Pengurusan Dokumen

Rp39 500
|
|
|
|
Belajar Menulis dari Seniman Michelangelo |
|
Written by Newsroom
|
|
Thursday, 19 June 2008 |
Niatan
berbagai ilmu pengetahuan untuk memberi setitik pencerahan kepada orang
lain lewat buku memang perlu terus disosialisasikan secara terbuka.
Namun hal ini tak perlu dipaksakan tentunya. Nah, mungkin Anda pernah
menyimak sebuah wasiat kuno dari negeri China: "buatlah buku maka kamu
akan hidup seribu tahun." Wasiat abadi ini saya kutip dari esai
berjudul Dicari Guru yang Penulis! yang ditulis Hikmat Kurnia, direktur
Agromedia Group. Ya, memang jika kita mati dengan meninggalkan karya
buku tentu akan terus dikenang dan diabadikan oleh sejarah, seperti
halnya Plato ataupun Pramoedya Ananta Toer, bukan?
Nah, ada fakta yang memprihatinkan tentang minimnya jumlah buku yang
diterbitkan di Indonesia dalam satu tahun. Dari catatan Hikmat Kurnia,
jumlah buku yang diterbitkan ada 12000 per tahun. Berangkat dari fakta
ini, para pekerja perbukuan di bawah kelompok Agromedia tergerak
berburu ke beberapa kampus di daerah untuk coba menemukan
penulis-penulis lokal. Lewat workshop penulisan dan talkshow, beberapa
event tergelar di UNJ, Universitas Tarumanegara, Universitas Jenderal
Sudirman (Purwokerto), Universitas Diponegoro (Semarang), hingga
Universitas Airlangga (Surabaya).
Senin, 16 Juni 2008 lalu, workshop penulisan untuk umum digelar di
Auditorium lantai dua Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.
Acara ini dibuka oleh Hikmat Kurnia. Pemateri workshop langsung
didatangkan dari Jakarta. Mereka adalah Lukito Adi (Pemimpin redaksi
dan Manager Produksi Agromedia), Fuad Izzudin (Pemimpin Redaksi dan
Kepala Produksi Transmedia Pustaka), Dipo Tanudi (Kepala Produksi
beberapa penerbitan buku), dan Windy Ariestanty (pemimpin redaksi
Gagasmedia dan Bukune). Materi yang dibawakan antara lain: dasar-dasar
penulisan, strategi dan gaya penulisan, menggali ide atau gagasan, tip
dan trik cara menembus penerbitan.
Dalam workshop juga dibahas pula buku-buku yang diminati dan kurang
diminati penerbit. Misalnya, untuk tema sastra, penerbit buku cukup
selektif dan membatasi tema-tema sastra. Selain melihat bahwa buku-buku
sastra di Indonesia peminatnya terbatas, juga karena booming tema
sastra yang sulit diprediksi. Bukan berarti buku bertema sastra pasti
ditolak oleh penerbit. Memang tak menutup kemungkinan buku-buku sastra
yang menjual dan bertema "menarik" akan diterbitan.
Workshop penulisan untuk umum ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai
fakultas. Sebagian besar datang dari Fakultas Ilmu Budaya, jurusan
sastra Indonesia. Sebenaran soal menulis bukanlah hal yang baru bagi
sebagian peserta workshop. Sebab, di jurusan sastra, mata kuliah
penulisan kreatif selalu tersaji.
Namun, yang menarik dari workshop penulisan ini adalah cara Dipo Tanudi
mengandaikan aktivitas menulis yang dipunduh dari keprigelan seorang
seniman besar Michelango.Dengan melihat karya patung berjudul David
(Nabi Daud) di Kapel Sistine di Roma, kita bisa mulai belajar menulis.
Patung setinggi setinggi 14 kaki itu dipahat dengan halus dan sempurna,
persis serupa manusia. Nampak kecermatan menandakan keindahan dan
kesempurnaan sebuah karya patung.
Begitupun dalam menulis. Perencanaan yang baik dan cerdas adalah
langkah awal yang menyertai usaha penulisan. "Mulailah dengan menemukan
malaikat dalam diri Anda, yakinlah Anda bisa, ajaklah tangan dan kepala
untuk bekerjasama," ujar Tanudi coba menginspirasi peserta workshop.
Selanjutnya "merebut hati penerbit" pun menjadi tema yang tak menarik.
Juga soal sistem pembayaran royalti, oplag, dan buku-buku yang diminati
penerbit.
Tanudi juga coba menyampaikan bahwa menulis tak harus berbakat dan
menulis tak dibatasi usia. Sebab menulis adalah sebuah keterampilan
yang bisa dilakukan siapapun.
|
|
|