|
Menilik Kembali Praktik "Machiavellisme" di Tahun 66 |
|
Ditulis Oleh Newsroom
|
|
Selasa, 21 Oktober 2008 |
Jatuhnya kekuasaan Bung Karno ke tangan Soeharto sebenarnya bagian dari
praktik "Machiavellisme". Demikian sebuah pernyataan Manai Sophiaan
(alm.) dalam buku Kehormatan Bagi yang Berhak. Sebagaimana kita ketahui
"Machiavellisme" adalah konsep politik menghalalkan segala cara yang
diadopsi dari buku Il Principe karya Niccolò Machiavelli.
Mantan Duta Besar RI untuk Uni Sovyet dan penanda tangan Petisi 50 ini
melihat Bung Karno dijatuhkan dengan tuduhan terlibat Gerakan 30
September tanpa membuktian di pengadilan. Kudeta paksa berdarah
bertameng Supersemar memang terjadi dibalik dukungan kekuatan Amerika
Serikat. Manai Sophiaan menunjukan sebuah bukti dokumen dari Presiden
Johnson Library yang dikirimkan dari temannya di Amerika; dokumen itu
memuat keterlibatan Amerika dalam berbagai pergolakan di Indonesia,
termasuk G30S/65 (hlm xxv).
Buku yang sempat menggemparkan rezim Orde Baru ini kembali diterbitkan
lagi oleh Visimedia. Buku ini mengajak kita untuk kembali melihat
sejarah gelap menjelang jatuhnya Bung Karno dalam kacamata seorang
Manai Sophiaan. Dalam perjalanannya buku Kehormatan Bagi Yang Berhak
mengalami sebuah perjalanan yang menarik. Tahun 1994, penguasa Orba
sempat menjegal agar buku itu dihentikan dari peredaran. Memang tidak
separah buku-buku Pramoedya Ananta Toer yang sempat dibakar dan
dilenyapkan. Namun akhirnya secara sembunyi-sembunyi buku tersebut
tetap disebarluaskan.
Misteri tumbangnya rezim Soekarno memang masih samar tertutupi. Hingga
kini belum ada pernyataan tegas dari negara tentang penjelasan fakta
sejarah yang sesungguhnya. Buku Kehormatan Bagi yang Berhak ini beranak
judul Bung Karno Tidak Terlibat G30S/PKI, coba mengurai kembali
fakta-fakta sejarah dalam rekaman sosok Manai Sophiaan. Namun soal
kudeta berdarah yang menelan korban ratusan manusia itu masih menarik
untuk ditelusuri.
Seperti yang dikatakan Mochtar Pabotinggi dalam kata pengantar, buku
ini ditulis dengan semangat pemeriksaan, transparansi, dan
akuntablitas. Manai Sophiaan coba melawan pembusukan sejarah yang
terlanjur keterusan. Kebenaran sejarah harus ditegakan. Dan buku
Kehormatan Bagi Yang Berhak memberikan gambaran nyata tentang kebusukan
sejarah yang ditutup-tutupi.
|