Shopping Cart

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors

Blog

Mengenal Hipnosis dan Hipnoterapi

Sejak dahulu hipnosis memang fenomenal dan mengundang perhatian dan rasa penasaran orang. Apa dan bagaimana cara mempraktikkan hipnosis, Willy Wong dan Andi Hakim coba membongkar rahasia hipnosis dalam bukunya Dasyatnya Hipnosis. Berikut hasil mewawancara dengan Willy Wong, seorang praktisi hipnosis bersertifikat. Ia akan menjelaskan aneka fenomena hipnosis dalam tangkapan orang awam dan bagaimana hipnosis bisa memotivasi orang dan membuat orang berprestasi di segala bidang.

1. Mengapa orang yang terhipnosis terlihat nampak seperti orang bodoh?

Sebenarnya bukan terlihat bodoh, namun menurut pendapat saya beberapa jawaban sebagai berikut:

Jika diasumsikan berdasarkan apa yang dilihat di layar televisi atau dalam materi Video CD kami, subjek (orang yang dihipnosis) adalah orang-orang pilihan yang sugestif, bahkan beberapa di antaranya pernah dihipnosis sebelumnya, sehingga lebih cenderung berekspresi diam daripada menunjukkan ketidakwajaran.

Jika subjek tersebut memang belum pernah dihipnosis sebelumnya,
Pertama, karena sang subjek merasa bingung kondisi tidak masuk akal yang pertama kali dialaminya (namun ini tidak berbahaya, asal diperlakukan dengan santun dan penuh kehati-hatian).

Kedua, dilihat dari sudut pandang penonton, akan menjadi sebuah kejadian yang menggelikan dan terkesan bodoh saat subjek melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, sehinggga menjadi sebuah persepsi bahwa subjek kersebut “terlihat bodoh”.

Padahal yang sebenarnya terjadi adalah subjek tersebut merupakan orang-orang bersugestivitas baik yang mempunyai kemampuan untuk memusatkan perhatiannya (fokus) pada satu hal saja, dimana realita sudah tidak dibedakan lagi dengan imajinasi.

2. Orang yang sering melamun betulkah lebih mudah dihipnosis?

Tidak ada korelasinya secara langsung, namun bisa dikatakan bahwa orang yang melamun berada dalam kondisi hipnosis. Sehingga orang yang sering melamun terbiasa berada dalam kondisi hipnosis, namun untuk dikategorikan sebagai “mudah” atau bersugestivitas baik, masih banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi.
Untuk membuktikan apakah orang tersebut termasuk bersugestivitas baik, satu-satunya cara adalah keharusan untuk melakukan “tes sugestivitas” terlebih dahulu.
 
3. Ada yang memberikan testimoni di internet, akibat dihipnosis anaknya dari mudah dipengaruhi dan mudah lupa. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Bukanlah suatu kebenaran. Seseorang yang dihipnosis berarti orang tersebut mempercayai dengan pemandu hipnosisnya, belum tentu ia berlaku demikian pula terhadap orang lain.
Apabila anak tersebut termasuk “mudah dihipnosis” atau sangat sugestif, berarti dengan kata lain dia memang mempunyai bakat untuk mudah menerima pengaruh sugesti orang lain, walaupun tanpa harus pernah dihipnosis sebelumnya.
Tipe seperti ini sebenarnya cukup “rentan” untuk memperoleh perlakuan kejahatan “atas nama” hipnosis, namun banyak faktor-faktor positif lain akibat bakat “mudah dihipnosis” tersebut, seperti mudah berkonsentrasi, dll. Bagi Anda yang bertipe sangat sugestif, dapat membaca penjelasan untuk menghidari kejahatan tersebut pada salah satu bab di buku kami.

Jika anak tersebut dinyatakan sebagai “mudah lupa” setelah sesi hipnosis, menurut hemat saya ada beberapa kemungkinan.

Salah satunya adalah generalisasi yang berlebihan dari orang tua itu sendiri.
Kemungkinan berikutnya, anak tersebut terhipnosis oleh dirinya sendiri, seakan-akan mengatakan, “saya sulit mengingat sesuatu” (setelah disugesti melupakan sesuatu), atau case lain, orang tersebut dihipnosis tanpa penjelasan lebih lanjut sesudahnya, selama beberapa saat ia “terpaku dengan dirinya sendiri”, dengan kata lain ada sedikit “shock” akibat proses hipnosis yang terjadi.
Seseorang yang mudah disugesti, sebenarnya justru mudah berkonsentrasi atau fokus terhadap suatu hal saja, oleh karena fokus terhadap keadaan dirinya yang tidak benarlah sehingga anak itu menjadi “mudah lupa”.

Kaidah melakukan terminasi / penetralan kembali ke kesadaran semula menjadi hal yang penting untuk dilakukan, demikian pula halnya dengan pemberian informasi yang benar kepada subjek untuk tetap memberikan penghargaan kepada subjek tersebut atas kemampuan yang dimiliki dan kerjasamanya.
 
4. Sampai berapa lama fungsi pemandu hipnosis dalam menjaga ‘pasien’?

 Tergantung berat tidaknya kasus dalam terapi.

5.  Seberapa berhasil media hipnosis bisa membantu proses pengobatan pasien?

Hipnosis untuk terapi / hipnoterapi digunakan untuk kasus-kasus psikologis dan psikosomatis saja. Terhadap kasus2 tersebut hipnosis bekerja dengan sangat efektif dan baik, apabila sesi terapi yang dilakukan seorang hipnoterapis terhadap kliennya belum berhasil, bukan berarti tidak efektifnya hipnosis itu sendiri, tapi belum berhasilnya sang terapis mengeksplorasi pikiran bawah sadar klien, yang terkadang memang membutuhkan waktu yang relatif lebih lama.

Yang penting pula untuk dicatat, hipnoterapi tidak efektif untuk kasus-kasus yang membutuhkan penanganan medis dan tidak bisa menggantikannya. Oleh karena itu pula menjadi filosofi hipnoterapi bahwa klien tidaklah menderita sakit secara medis, hanya saja ada struktur pemrograman pikiran yang tidak tertata baik sehingga perlu ditata ulang kembali. Oleh karena itulah kegiatan hipnoterapi tidak disebutnya ssebagai “pasien” melainkan “klien”.

6. Bagaimana penjelasan bahwa dengan hipnosis orang bisa termotivasi, berprestasi, dan lainnya?

 Seperti yang disebutkan di atas, dalam ada begitu banyak pemrograman pikiran yang bahkan tidak tertata dan jadi saling bertentangan. Hal ini berpotensi menimbulkan gangguan mulai dari skala ringan (malas belajar, tidak termotivasi) hingga skala berat (fobia, adiktif, insomnia, dan sebagainya).
Sebagai contoh dari fenomena sehari-hari, saat kita bangun tidur, ada “bagian” pikiran yang ingin kita menikmati hari tersebut dengan tidur kembali tidak bekerja, ada “bagian” lain yang menginginkan kita harus bekerja. Apabila “bagian” yang ingin kita menikmati hari tersebut menang sehingga kita membolos kerja, dan diulangi lagi dari waktu ke waktu, menyebabkan kita menjadi mempunyai “kebiasaan buruk”.
Demikian pula terhadap hal-hal yang dikategorikan sebagai “kasus berat” : phobia terhadap sesuatu yang tidak masuk akal (phobia ketinggian, phobia kotor), kleptomania, sulit tidur, dan sebagainya. Ini karena ada “bagian” pikiran yang bermaksud menyelamatkan tubuh dari kondisi yang sama sebelumnya yang menjadikan traumatik. Padahal ada “bagian” pikiran lain yang terganggu, semisal menyebabkannya menjadi tidak dapat melakukan aktivitas dengan baik, merasa aneh dan tidak nyaman, dan sebagainya.
Pikiran bawah sadar bekerja dalam “bagian-bagian” pikiran tersebut. Dengan hipnosis, “bagian” yang merugikan namun telah menjadi kebiasaan tersebut “diajak” untuk diedukasi kembali, dan “bagian” yang menguntungkan diperkuat.

7. Bila relaksasi adalah langkah awal dari menghipnosis diri (self hypnosis). Berarti semua orang berpotensi bisa melakukan hipnosis seperti yang Anda lakukan?

 Hipnosis diri dilakukan untuk menghipnosis diri sendiri, dengan prinsip yang sama seseorang bisa melakukannya dengan orang lain sebatas apa yang dilakukannya terhadap dirinya sendiri, apabila orang tersebut “kreatif” dan “jeli”. Namun untuk melakukan hipnosis untuk pertunjukan, terapi, atau hal-hal lain, perlu memperhatikan kaidah2 lain yang menyertainya.
Karena kegiatan hipnosis yang dilakukan terhadap diri sendiri hanya mencapai skala “kedalaman” tertentu saja, untuk “kedalaman” yang lebih lanjut dibutuhkan adanya pemandu.
 
8. Betulkah agar aman dari gendam, jari kelingking dan jempol dipertemukan dan ditekan kuat?

Kejahatan yang dilakukan atas nama hipnosis menggunakan konsep-konsep hipnosis untuk membingungkan pikiran sadar korban. Saat fokus terhadap pelaku, ia tersugesti. Sebalinya saat calon korban mengalihkan fokus ke hal-hal lain, ia lepas dari sugesti. Demikianlah halnya dengan kegiatan yang disebutkan di atas.
Namun perlu diperhatikan bahwa melakukan jari kelingking dan jempol dapat pula berpotensi bahwa pikiran bawah sadar kita masih menerima sugesti sang pelaku. Cara yang lebih aman adalah mencari / melihat-lihat hal-hal yang ada di sekelilingnya dengan tetap tenang, sehingga terjadi peralihan fokus.
 
9. Apakah hipnosis sebagai terapi diri mirip dengan laku meditasi atau yoga?

Konsepnya serupa, dan keduanya merupakan kegiatan yang menyebabkan keadaan hipnosis. Namun laku meditasi menitikberatkan aspek transedental /spiritual, hipnosis diri menitikberatkan pemrograman pikiran bawah sadar untuk kepentingan pelaku sendiri.

10. Apa saran Anda untuk orang awam yang ingin total belajar hipnosis? dan apa saja resiko-resikonya?
       Bagaimana pengalaman Anda pertama kali saat belajar hipnotis?
 
Saran saya adalah tetap mengutamakan penghargaan dan penjalinan hubungan yang baik kepada subjek sebagai pelaku kegiatan hipnosis yang sesungguhnya.
Hipnosis relatif tidak beresiko, denagn catatan pelaku memahami konsep hipnosis dengan baik, dan memberikan pengetahuan yang benar kepada subjek setelahnya, karena ini yang paling penting untuk menghindarkan stigma buruk dari orang lain kepadanya.
 
Pengalaman saya? Saat pertama kali bisa membawa seseorang dalam kondisi hipnosis, baik apa yang dilakukan seperti pada pertunjukan di layar televisi atau kegiatan terapi, saya sangat antusias sekali. Ada sebuah kaidah keilmuan baru bagi saya dalam memandang pemanfaatan potensi pikiran manusia, dan ini sangat luar biasa dahsyat. 

 

Write a Reply or Comment