Shopping Cart

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors

Blog

Mengungkap Mantra Bisnis Orang Tionghoa

Judul buku : Mengikuti Jejak Bisnis Menggiurkan Orang Tionghoa
Penulis       : Liem Yoe Tjwan
Penerbit     : Visimedia, Jakarta
Edisi           : 1 Desember 2008
Tebal buku : viii + 116 hlm.

Sering kali kita mendengar ungkapan remeh-temeh seperti iti, "Orang Tiongoa memiliki pemikiran bahwa uang satu juta tidak bisa disebut satu juta tanpa ada uang seratus rupiah. Sangat jarang ditemui orang Tionghoa membuang-buang recehan, seakan-akan tak ada artinya." Pandangan filosofis seperti ini seolah-olah ingin menegaskan image bahwa orang Tionghoa itu pelit atau kelewat kikir. Bahwa pelit iti pangkal kaya. Benarkah demikian?

Judul buku : Mengikuti Jejak Bisnis Menggiurkan Orang Tionghoa
Penulis       : Liem Yoe Tjwan
Penerbit     : Visimedia, Jakarta
Edisi          : 1 Desember 2008
Tebal buku : viii + 116 hlm.

Sering kali kita mendengar ungkapan remeh-temeh seperti iti, "Orang Tiongoa memiliki pemikiran bahwa uang satu juta tidak bisa disebut satu juta tanpa ada uang seratus rupiah. Sangat jarang ditemui orang Tionghoa membuang-buang recehan, seakan-akan tak ada artinya." Pandangan filosofis seperti ini seolah-olah ingin menegaskan image bahwa orang Tionghoa itu pelit atau kelewat kikir. Bahwa pelit iti pangkal kaya. Benarkah demikian?

Liem Yoy Tjwan, seorang pemuda peranakan yang memiliki kreativitas nalar, semangat dan penuh inovasi brilian, menulis sebuah buku yang lebih menyerupai "mantra" ketimbang tip-tip manjur untuk meraup kesuksesan dalam berbisnis. Buku yang ditulisnya dalam rangka menyambut tahun  baru Imlek 2560 (2009) ini Mengikuti Jejak Bisnis Menggiurkan Orang Tionghoa, menyajikan berbagai hal praktis sukses bisnis menurut tradisi dan etos bisnis orang Tuionghoa. Termasuk juga prediksi lancar dalam berbisnis di masa krisis ini.

Orang Tionghoa sangat sadar bahwa untuk meraih kesuksesan–dalam segala aspek kehidupan–itu harus ada setidaknya dua hal penting: motivasi dan kemampuan. Dalam realitas kehidupan orang Tionhoa sehari-hari, mereka selalu hidup dalam komunitas yang penuh dengan motivasi yang menyemangati hidup keseharian mereka. Sebab, ketika termotivasi, mereka, mereka akan lebih mudah dan cepat meraih kesuksesan hidup. Bahkan, ada pendapat (negatif) dari mereka yang "tercengang" oleh sukses bisnis orang Tionghoa, bahwa dalam uoaya meraih kesuksesan bisnis itu, orang Tionghoa acap kali "menghalalkan segala cara"–tanpa mengindahkan etika bisnis, mengabaikan halal-haram (dalam perspektif agama), dan nilai-nilai moral.

Setiap orang setidaknya suatu kali dalam hidupnya pernah memimpikan atau menginginkan menjadi sukses (secara finansial). Ada sebagian kecil masyarakat yang tampaknya lebih mudah mendapatkan kesuksesan finansial itu dalam waktu singkat, sedangkan sebagian besar lainnya hanya terus menerus bekerja keras tanpa mencapai apa yang diinginkannya . Di Tanah Air, sebagian kecil orang itu adalah Tionghoa. Mereka tidak semuanya sukses (dalam bisnis) dan hidup kaya raya, tetapi sebagian besar dari mereka itu memiliki prinsip hidup yang mereka jalankan secara disiplin sehingga di kemudian hari membuahkan hasil yang besar.

Prinsip hidup orang Tionghoa yang ditulis Liem Yoe Tjwan (Joko Salim) dalam  hku Mengikuti Jejak Bisnis Menggiurkan Orang Tiongoa ini hanya sebagian kecil dari prinsip dan sikap hidup yang dapat dilihat dari orang Tionghoa yang mencapai kesuksesan dari nol. Namun jika ditarik benang merah etos kerja orang Tionghoa, sebetulnya terdapat "tiga pilar utama" dari sekian banyak prinsip hidup yang membawa mereka menuju kesuksesan secara finansial. Ketiga pilar utama itu adalah kerja keras, hidup hemat, dan putarkan uang yang ada.

Orang Tionghoa memiliki sifat ulet dan kerja keras, dan tidak kenal lelah. Ini merupakan prinsip utama yang membawa mereka mencapai kesuksesan. Semua kerja keras yang dilakukan orang Tionghoa itu adalah untuk memperoleh materi (finansial). Mereka sadar betul bahwa uang bukan segala-galanya, tetapi hidup tanpa uang maka segalanya akan menjadi sangat sulit. Inilah yang mendorong mereka untuk melakukan begitu banyak hal untuk mendapatkan uang.

Prinsip hidup hemat–yang cenderung bersikap kikir atau pelit–telah menjadi ciri utama orang Tionghoa. Prinsip hidup hemat yang telah menjadi etos orang Tionghoa itu mengajarkan sikap hidup hemat dan memiliki gaya hidup di bawah kemampuan finansial mereka. Prinsip hidup hemat tersebut biasanya diterjemahkan dalam peribahasa: "jangan sampai lebih besar pengeluaran daripada pemasukan". Banyak orang memahami prinsip hidup ini, tetapi hanya sedikit yang bisa mengikuti jejak orang Tionghoa. Hal ini disebabkan karena mereka sulit mengekang keinginan mereka. Banyak orangmau hidup hemat, tetapi tidak mau menurunkan gaya hidupnya. Orang Tionghoa sangat disiplin dalam menerapkan prinsip hidup ini, sehingga tidak mengherankan jika dana cadangan mereka semakin bertambah dari hari ke hari.

Selain "tiga pilar utama" etos kerja orang Tionghoa tersebut, buku ini juga menyajikan "25 prinsip penunjang" yang acap kali dilakukan oleh orang Tionghoa dalam mencapai tujuan (motivasi) finansialnya. Prinsip hidup penunjang ini hampir selalu diajarkan orang Tionghoa kepada anak-anak mereka. Prinsip penunjang tersebut, di antaranya: prinsip harus bisa, wirausaha, memulai dari yang kecil, harus bisa dipercaya, tidak mudah percaya, tidak mudah membuka diri, pandai berhitung, tampil apa adanya, membina relasi, makan harus dihabiskan, mencari yang terbaik, menahan diri, tidak menyakiti orang lain, menghormati leluhur, dan mengutamakan keluarga.

Buku juga ditunjang dengan analisis data dan prinsip berinvestasi yang ideal di tengah terpaan krisis finansial yang diprediksi akan melanda dunia secara global di tahun 2009 ini. Termasuk juga tip penting prinsip menjadi kaya. Buku setebal 124 halaman ini menyajikan kiat berinvestasi (disertai aplikasi dan kalkulasi modal) emas, investasi mata uang asing, investasi saham, investasi properti, investasi tanah, investasi bangunan gedung, investasi barang produktif, investasi pabrik, investasi pendidikan, dan franchise sebagai bisnis sampingan. Juga menyajikan prediksi bisnis lancar pada masa krisis.

Apa yang disampaikan dalam buku ini merupakan intisari dari berbagai prinsip dasar yang lazim dilakukan oleh komunitas orangTionghoa dalam menjalankan usaha bisnis dan dalam menginvestasikan kelebihan finansial (dana cadangan) yang dimilikinya. Tentu saja, buku ini bukan "rumus bisnis" yang cespleng untuk meraih kesuksesan secara materi (finansial) dalam waktu singkat.

Namun demikian, pembaca buku ini memiliki "kesempatan" di depan mata untuk juga bisa meraih kesuksesan luar biasa tersebut. Sebab, prinsip hidup dan etos bisnis orang Tionghoa yang telah terbukti sepanjang generasi dan tak lekang di makan zaman ini, disajikan secara detail dan menarik dalam buku yang bisa mengubah prinsip hidup dan etos yang lebih positif.

Syafrudin Azhar, kolumnis dan pemerhati buku.

dari : http://oase.kompas.com/read/xml/2009/02/10/10403660/mengungkap.mantra.bisnis.orang.tionghoa
Selasa, 10 Februari 2009 | 10:40 WIB

Write a Reply or Comment